Trends
Model Baru Mal di Tengah Ledakan e-Commerce

Tingginya angka transaksi e-commerce menimbulkan kekhawatiran bagi sejumlah pengusaha mal. Dilansir dari businessoffashion.com, meskipun kebutuhan seputar belanja offline berkurang, mal masih dapat bertahan dengan mengusung konsep “tempat ketiga”.

Chris Dixon, seorang kapitalis ventura pernah memprediksi, e-commerce akan terus berkembang dan memasuki perdagangan offline. Saat itu, ia memprediksi perdagangan offline pada akhirnya hanya akan melayani dua tujuan, yaitu kedekatan (barang yang dibutuhkan saat ini juga) dan pengalaman (ruang pameran, tempat hiburan). Di luar itu, perdagangan akan terjadi secara online.

Kepala Strategi ritel IDEO Nina Fuhrman mengatakan, meskipun kebutuhan seputar belanja berkurang, kebutuhan konsumen akan ‘tempat ketiga’ masih dibutuhkan.

“Tempat ketiga” merupakan istilah yang diambil dari buku The Great Good Place karya Roy Oldenberg. Ia berpendapat, ketika rumah adalah tempat pertama dan pekerjaan adalah tempat kedua, maka tempat ketiga adalah ruang pertemuan informal tempat orang dapat berbaur di luar dua lingkungan pertama. Starbucks merupakan salah satu yang telah menerapkan prinsip ini dalam misinya.

Mortimer Singer, CEO Traub mengatakan, hanya ada satu ramuan dalam formula kesuksesan. “Formula kesuksesan tidak berarti hanya memiliki toko dengan kualitas bagus, melainkan perpaduan bisnis. Mulai dari keramahan, makanan dan minuman, lingkungan, dan hiburan yang menyenangkan.”

Makanan dan minuman merupakan hal yang cukup penting untuk menarik pengunjung mall. “Sangat jelas bahwa pelanggan saat ini berharap memiliki banyak pilihan makanan. Bukan sekadar makanan, tetapi makanan lezat di tempat tujuan belanja,” kata Gunn Downing, Direktur Eksekutif Marketing South Coast Plaza.

Selain makanan, mal juga harus bereksperimen dengan cara lain untuk menghibur para pembeli dengan menciptakan ruang yang diinginkan pembeli.  Bagi Louise Nichol, Pemimpin Redaksi Harper’s Bazaar Arabia, The Dubai Mall (TDM) merupakan contoh yang cukup baik dalam memadukan digital dengan kehidupan nyata. “Penetrasi media sosial sangat tinggi di sini. Mall dan daerah sekitarnya menawarkan banyak peluang penciptaan konten,” ujar Nichol.

Hiburan merupakan hal yang cukup diperhatikan selain dua poin pertama. South Coast Plaza adalah salah satu perusahaan yang telah menikmati keuntungan dari hiburan. Berada di sebelah Segerstrom untuk pusat seni kelas dunia, mereka kerap bermitra dalam acara hiburan. Hal ini sangat berpengaruh pada penjualan mereka.

“Pada festival tahun baru 2016, mereka dapat mendorong penjualan pada bulan Januari yang umumnya sedikit lamban pertumbuhannya,” jelas Downing.

Lingkungan ramah anak merupakan hal yang tidak kalah penting dan menjadi keinginan bagi para pengunjung. Dua perusahaan yang memanfaatkan permintaan ini adalah Cinepolis dan Kidzania. Dua perusahaan ini telah menambahkan berbagai wahana menarik bagi anak seperti mereka dapat berperan menjadi apapun yang mereka inginkan.

Menghadirkan mal yang berdekatan dengan tempat hunian juga menjadi salah satu model baru. Westfield telah mengembangkan properti hunian yang berdekatan dengan mal. Hal ini tidak hanya menghasilkan arus pendapatan dari sewa, namun juga meningkatkan lalu lintas ke toko-toko.

Ledakan e-commerce memang menjadi tantangan sendiri dalam dekade terakhir. Namun, bagi pemilik properti yang cerdas, masih terdapat banyak peluang untuk tidak sekadar bertahan, namun berkembang.

http://marketeers.com/model-baru-mall-di-tengah-ledakan-e-commerce/

More News